Selasa, 31 Maret 2009

Pemijat Itu Bisa Bangun Masjid dan Kampungnya

Pemijat Itu Bisa Bangun Masjid dan Kampungnya
Jumat, 19 September 2008 08:46 WIB

SURABAYA - Menjadi tukang pijat belumlah cukup. Sumirah nyambi jadi tukang sol sepatu, penjahit, dan pekerja pabrik. Sebagian hasil keringatnya itu ia gunakan untuk membangun madrasah, masjid, mushala, dan mengurus anak yatim. Ternyata, beramal tidak harus menunggu kaya.
Penolakan halus langsung diucapkan Sumirah, pimpinan Panti Asuhan Yatim Piatu Amanah, Rungkut, Surabaya, saat akan diwawancarai Surya untuk tulisan ini. "Saya ini apalah mbak, kok pakai diwawancarai. Masih banyak yang lebih bagus, lebih pintar, dan lebih hebat," elaknya saat ditemui di Panti Asuhan Amanah sekaligus rumahnya di Jalan Pandugo Gg II Nomor 30 B, Rungkut, Senin (15/9).
Secara materi, Sumirah memang belum bisa dibandingkan dengan pengusaha sukses. Namun, kekayaan hati Sumirah mungkin hanya dimiliki segelintir orang pada abad ini.
Perempuan kelahiran 3 April 1965 ini tak cukup mengelola panti asuhan. Ia mendirikan madrasah, masjid, dan mushala di kampungnya, Pacitan. Mungkin juga sulit dipercaya, Sumirah menghidupi anak-anak yatim dengan menjadi tukang pijat panggilan.
Rasa empati Sumirah sudah terpupuk sejak kecil. Ia terbiasa bergaul dengan anak-anak yatim asuhan almarhum Atmorejo, ayahnya. "Saat itu ada 100 anak yatim dan anak-anak lain yang berlatih ilmu kanuragan (kebatinan) di rumah. Mereka semua tinggal di rumah," kata ibu lima anak ini.
Secara materi Sumirah kecil tercukupi, tetapi didikan ayahnya tidak membuatnya manja. Bahkan, sejak kelas II SD ia sudah menjadi tukang pijat alternatif, warisan keahlian turun temurun. Duitnya "ditabung" di mushala di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan.
"Saat itu saya masih ingat nasihat ayah, 'Kalau kamu punya rezeki, 50 persen untuk kamu dan 50 persen lagi untuk mushala. Pasti rezeki itu akan barokah'," ujarnya.
Pesan almarhum ayahnya terus diingat Sumirah. Setiap rupiah yang dihasilkan selalu disisihkan untuk mushala. Begitu pula ketika orderan memijat merambah hingga Madiun, bahkan Semarang.
Saat SMP Sumirah dan kakaknya hijrah ke Jakarta. Di kota megapolitan ini Sumirah tidak tertarik mencicipi pekerjaan lain. Kebetulan, kemampuan memijatnya tersohor hingga ke Jawa Barat. Pada 1986 Sumirah dan suami mencari peruntungan di Surabaya. Di kota ini selain tetap memijat, ia bekerja di pabrik PT Horison Sintex (sekarang Lotus). Ia hanya masuk pabrik hari Selasa, Rabu, dan Kamis.
Namun, dua profesi itu belum cukup. Merasa waktunya masih senggang, Sumirah mencari pekerjaan sampingan. Ia menjadi tukang sol sepatu, menjahit baju, dan tukang keriting rambut. "Karena pekerjaan banyak, rata-rata saya hanya tidur dua jam sehari. Mijat saja sehari hingga 20 kali," katanya sambil tersenyum.
Kerja keras itu impas dengan hasilnya. Sehari, tidak kurang ia mengantongi Rp 2 juta. Namun, limpahan uang itu tidak membuatnya mabuk. Uang itu dialirkan untuk membangun madrasah, mushala-mushala, dan masjid di desanya. Sumirah enggan menyebut nama mushala itu. "Nanti saya ndak diridaikalau pamer," katanya.
Suatu ketika, Sumirah pulang kampung. Jalan di desanya tidak bisa dilewati karena rusak berat. Prihatin, ia dan suaminya memperkeras seluruh jalan itu dengan paving blok. Walhasil, rencana naik haji seketika batal karena simpanan Rp 60 juta habis untuk ongkos paving.
"Saya tidak pernah menyimpan uang di bank. Bukan apa-apa, tapi karena tanda tangan saya tidak pernah sama. Itu tentu tidak boleh kan?" katanya.
Hidup Sumirah teruji saat dia melihat banyak anak telantar di sekitar kampungnya. Dia nekat menampung 54 anak yatim itu di rumahnya yang berukuran 2,5 meter x 13 meter. "Sebagian dari mereka saya koskan di depan rumah. Saya sewa tiga kamar," katanya.
Masalah datang ketika anak asuhnya ndableg dengan menghabiskan air dan sabun milik ibu kos. Sekitar pukul 21.00 anak-anak itu diusir. "Mereka saya tampung di rumah saya. Jadi, mereka tidur sambil duduk," kata Sumirah.
Esoknya, Sumirah mencari kontrakan untuk mereka. Tawaran kontrakan Rp 4 juta ditolak karena Sumirah tak punya duit. Di tengah kesulitan ia berdoa. Mendadak ada semacam dorongan untuk menghubungi Pak Triyono, dermawan dari Barata Jaya, Surabaya. Sumirah kaget, Pak Triyono memberinya zakat maal (zakat kekayaan) sejumlah Rp 4 juta. "Agar tidak mengganggu penduduk kampung, pagi-pagi sekali kami pindahan," katanya.
Panti Asuhan Amanah kini menampung 60 anak yatim, dibangun Sumirah pada 1996. Mereka kanak-kanak hingga remaja. Belum lama ini Sumirah mengasuh balita yang ditinggal mati bapaknya. Amelia, balita itu, sekarang berumur sembilan bulan. "Oh ya, Saya sudah menikahkan 13 anak di sini, 16 Oktober nanti saya mantu lagi," ujarnya dengan mata berbinar.
Untuk mencukupi hidup anak asuhnya, Sumirah tidak mengandalkan bantuan donatur yang sebagian adalah pelanggan pijatnya. Selepas subuh, anak yatim itu berdagang kelapa kupas, sayuran, dan bumbu. Sumirah dan suami juga membuka toko kelontong.
Mengakhiri kisahnya, Sumirah sempat bilang, "Pergunakanlah mata hati. Banyak orang pintar yang belum tentu mengerti." (MUSAHADAH)

Sabtu, 29 November 2008

SEJARAH KOLDING LANGKAT ASTER







SEJARAH KOLDING LANGKAT ASTER

Assalammualaikum……Wr………..Wb…..
Salam Kenal,
Hai…………..hai…….. cukup lama saya tidak mengunjungi tempat ini, kangen juga nih. Ketika membuka blog saya kaget, ternyata sudah banyak yang mengunjungi saya. Saya senang sih plus bangga, tapi sedikit kuciwa juga ternyata hanya di kunjungi tapi tidak ada komentar apa pun. Pada hal saya sangat yakin se yakin yakinnya kalau blog saya penuh dengan kekurangan. Makanya saya sangat membutuhkan komentar demi kemajuan blog saya ini. Saya sangat berharap dengan kunjungan teman- teman blog saya bisa lebih baik, walau tidak sempurna.
Mh…………tahu nggak temen-temen bagaimana sejarah saya mengetahui cara membuat Kolding Langkat itu ? Pada hal seumur-umur saya belum pernah ke Langkat. Makanya ada kejadian lucu saat saya jualan Kolding Langkat. Saat saya jualan ada yang beli langsung memakai bahasa daerah Langkat, dalam hati saya langsunga bilang”alamak tak tau lah awak “he…………..he………Singkat cerita Pembeli justru minta maaf ke saya.
Oya, saya koq jadi lupa cerita sejarah ketemunya saya dengan Kolding Langkat. Dahulu kala, ih koq jadi berat gitu ya katanya? Maksud saya, orang tua saya sudah lama menetap di Riau (makanya saya nongolnya juga di Riau). Setelah saya di boyong suami ke Jakarta sekurangnya sekali dalam setahun kita mudik ke Riau. Nah ketika mudik itu tanpa sengaja kita menemukan tempat minum yang sederhana, tapi meyakinkan. Memang dari dulu saya kurang tertarik makan di tempat yang wah. Saya justru senang makan di tempat yang unik, sederhana tapi tidak kalah huebatnya dari yang berkelas. Sudah sifat saya, setiap makan slalu melihat yang di makan dan melihat serta memperhatikan makanan dulu. Mungkin bagi orang ini aneh, tapi bagi saya ini hal terpenting. Cie..........
Kolding saya aduk-aduk plus makan juga sih. Setelah makan di sana kayaknya kurang seru tidak di bungkus (ha..........ha...........kelaparan ). Lagi-lagi di rumah Kolding saya aduk-aduk tidak ketinggalan makannya dong, kembung dah. Nah setelah itu di awal bulan Ramadhan saya dengan memakai modal nekad, langsung membuat Kolding Langkat. Awal jualan Ibu saya(sewaktu itu lagi liburan tempat saya) sedikit kuciwa dan setelah beberapa hari hampir putus asa. Karena melihat yang jualan es buah yang berdekatan dengan saya laku keras.
Namun setelah hari ke-3 perlahan tapi pasti pembeli berdatangan. Awalnya mencoba-coba malah ketagihan. Bahkan belum waktunya jualan sudah ada yang datang memesan. Jujur, sewaktu jualan sempat di tertawakan. Mereka menanyakan apa itu Kolding. Saya jawab Kolak Dingin. Saya maklum kalau mereka tertawa. Karena anggapan mereka Kolak biasa saja yang didinginkan. Tapi setelah saya jelaskan mereka penasaran ingin mencoba. Ujung-ujungnya saya yang kewalahan menghadapi mereka yang mau membeli. Bahkan suami yang baru pulang kantor pun ikut membantu saya he.........he...........pada hal bala bantuan yang lain sudah cukup banyak, tapi tetap saja kewalahan. Bayangkan saja saya hanya berjualan tidak membutuhkan waktu 2 jam. Akibatnya kita ngos-ngosan ha.............ha.............
Berawal dari sindiran, ujung-ujungnya anak-anak saya protes. Mereka protes kurang bisa menikmati Ramadhan. Pada hal rencana kami hari Sabtu dan Minggu hari bebas dari dunia Kolding. Bayangkan bagaimana saya tidak bangga dengan Kolding Langkat ini, minuman sederhana tapi mampu membius orang cie...........cie.............
Dari satu jadi dua, dan seterusnya pelanggan saya bertambah. Lagi dan lagi. Mereka bukan lagi pelanggan dekat saja tapi sudah ada yang jauh.Peminat Kolding Langkat saya bukan hanya kaum muslimin yang mau berbuka puasa saja, tapi justru non muslim juga banyak menyukainya. Bahkan pernah seorang Bapak yang akan berbuka puasa bersama di kantor justru minta di bungkuskan Kolding dan Serabi buatan saya. Kali ini saya sampai terharu, saya begitu di hargai. Pada hal dulu saya sempat ditertawakan dengan ”Kolak Dingin”.
Ternyata berawal dari lidah turun ke hati benar-benar bermanfaat bagi saya. Penasaran mau mencoba? Pesen dulu dong he......he...........
Itu lah sejarah saya dengan Kolding Langkat. Walau sampai saat ini saya belum pernah menginjakkan kaki di Langkat, tapi sudah membawa rezeki bagi saya. Terima kasih Langkat.

Minggu, 03 Agustus 2008

KOLDING LANGKAT

Nah ini menu andalan kolding langkat, adalah kolak dingin, tapi bukan sembarang kolak. Setiap bulan puasa selalu jadi yang pertama.

Kolak Serabi

Ini salah satu menu andalan saya, terutama di bulan puasa. selalu di tunggu dan cepat habis. mungkin karena saya tetap mempertahankan kualitas dari bahan makanan. jadi walau sederhana banyak peminatnya

Sabtu, 02 Agustus 2008

Testing Posting

Test